Papua… sebuah nama Pulau bagian dari Indonesia. Ketika ada seseorang menyebutkan kata itu, pasti langsung tergambar dalam benak kita bahwa itu adalah pulau yang primitive, jauh dari kehidupan Glamour, hanya dihuni oleh masyarakat asli Papua yang kebanyakan masih hidup nomaden (berpindah – pindah tempat) dan kawasannya masih berupa hutan belantara. Kebanyakan masyarakat yang belum pernah berdomisili disana pasti berpikir seperti itu, namun itu semua tidak benar. Papua memang belum menjadi Propinsi yang sangat maju dan memiliki kota Metropolitan seperti Jakarta, namun Papua juga memiliki banyak kelebihan lainnya.
Saya akan sedikit berbagi pengalaman dan pengetahuan saya tentang Papua, kebetulan saya adalah salah satu orang yang pernah tinggal di salah satu kota di Propinsi Papua, tepatnya di Merauke. Saya lahir dalam sebuah lingkungan TNI - AD, ketika saya masih kelas 2 SD dan berdomisili di kota Malang, Ayah saya lulus Secapa (Sekolah Calon Perwira) dan kemudian mendapat tempat penugasan di Papua (dulu masih bernama Irian Jaya). Ketika saya kelas 3 SD, kami sekeluarga pindah ke Merauke.
Awalnya saya sempat kaget ketika baru saja tiba di Pelabuhan, para anggota Ayah saya rata – rata adalah penduduk asli Papua, saya semakin kaget ketika melihat mulut mereka berwarna merah. Dari penampilannya, mereka memang terlihat baik – baik namun karena ketika itu saya masih kecil, imajinasi saya segera melayang, membayangkan bahwa mereka masih memakan manusia seperti apa yang saya ketahui tentang penduduk asli disana.
Setelah saya menanyakan hal itu pada Ayah saya, ternyata itu tidak benar, ternyata mereka hanya memakan buah Pinang dan Daun Sirih yang ketika dikunyah akan menyebabkan mulut mereka berwarna merah seperti sedang mengunyah sesuatu yang berdarah, namun bukan berarti mereka masih memakan daging manusia. Saya langsung merasa tenang ketika itu.
Cuaca di Merauke pun sangat panas karena disana merupakan dataran, tidak ada gunung. Memang di daerah lain di Papua terdapat gunung, contohnya Gunung Jaya Wijaya yang dipuncaknya terdapat salju abadi, namun itu terletak di Kota Wamena, 2 jam perjalanan dengan pesawat dari Merauke.
Hutan disana masih banyak yang belum terjamah tangan manusia, dengan kata lain masih liar karena itu kita dapat melihat hewan – hewan tersebut dengan mudah. Di Merauke juga banyak terdapat Rumah Semut atau dalam bahasa Marind disebut Musamus. Musamus sendiri kini dijadikan icon dari Merauke karena ini merupakan salah satu kekayaan alam yang hanya ada di Merauke.
Kemudian di salah satu lokasi transmigrasi di Kab. Merauke juga terdapat patung/monument L.B.Moerdani, salah satu perwira TNI – AD, monument itu menunjukkan bahwa di tempat itu pernah terjadi peristiwa penting yaitu untuk pertama kalinya seorang Perwira Angkatan Darat mendarat di Merauke dalam rangka pembebasan Irian Barat. Kemudian di salah satu Kabupaten Pemekaran di Pedalaman Papua yaitu tepatnya di Kabupaten Bouven Digoel (dulu merupakan bagian dari Kabupaten Merauke), juga terdapat sebuah tempat bersejarah yaitu sebuah penjara yang pernah digunakan sebagai tempat pengasingan mantan Presiden RI yang pertama, Ir. Soekarno.
Di Daerah Sota, yaitu daerah perbatasan antara RI dan Papua New Guinea terdapat Tugu Perbatasan dan Tugu Garuda Kembar seperti yang ada di Aceh.
Banyak hal – hal menarik disana yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Sesungguhnya Papua tidak seseram bayangan masyarakat pada umumnya.






